Informasiindo.com - Informasiindo.com//Lamongan, 3 Februari 2026 – Masalah banjir tahunan di kawasan Bengawan Jero, Lamongan, seolah menjadi siklus nestapa yang belum menemui titik terang permanen. Setiap musim penghujan tiba, ribuan hektar tambak dan pemukiman di wilayah hilir ini terendam selama berbulan-bulan. Namun, sebuah gagasan segar muncul dari hasil diskusi dengan salah satu ahli tata kelola pemerintahan. Solusi ini memadukan teknologi hidrolik modern dengan kearifan teknis masa lalu yang tersembunyi dalam dokumen lama kolonial.
Bendungan Karet: Teknologi Fleksibel Pengendali Elevasi
Solusi utama yang ditawarkan adalah pembangunan Bendungan Karet (Inflatable Rubber Dam), serupa dengan yang telah sukses diimplementasikan di wilayah Kendal, Jawa Tengah.
Apa itu Bendungan Karet?
Berbeda dengan bendungan beton permanen, bendungan karet adalah struktur tabung kain sintetis (biasanya nilon atau polyester) yang dilapisi karet tebal dan dipasang melintang di sungai. Bendungan ini bekerja dengan sistem pengisian (inflasi) dan pengosongan (deflasi).
Saat Banjir/Debit Tinggi: Udara atau air dipompa masuk ke dalam tabung karet sehingga bendungan mengembang dan meninggi. Hal ini berfungsi menahan laju air atau mencegah intrusi air laut yang masuk ke daratan (rob). Hebatnya, teknologi ini diklaim mampu memanipulasi atau mengurangi tekanan debit air secara efektif, bahkan menurunkan level muka air hingga 5 meter melalui manajemen buka-tutup yang presisi.
Saat Kemarau/Normal: Karet dikempiskan (deflasi) sehingga air dapat mengalir secara alami tanpa hambatan struktur permanen di dasar sungai.
Keunggulan sistem ini adalah fleksibilitasnya. Di kawasan Bengawan Jero yang tanahnya memiliki karakteristik labil, struktur karet jauh lebih ringan dan minim risiko retak dibandingkan beton masif.
Penempatan Strategis: Fokus di Dua Titik Kunci
Alih-alih membangun banyak infrastruktur kecil yang tersebar dan tidak efektif, ahli menyarankan fokus pada dua titik krusial yang menjadi “pintu masuk dan keluar” air di wilayah tersebut:
1. Karanggeneng
2. Karangbinangun
Dua lokasi ini dinilai sebagai titik gravitasi tata kelola air di Lamongan utara. Dengan menempatkan bendungan karet di sini, pengaturan debit air yang masuk ke jaringan irigasi maupun yang dibuang menuju laut dapat dikendalikan dalam satu komando teknis. Ini akan menciptakan sistem “polder” semi-terbuka yang lebih terkontrol.
Skema Pendanaan: Gotong Royong Tiga Pilar (APBN, APBD Provinsi, APBD Daerah)
Membangun infrastruktur kelas berat tentu membutuhkan napas finansial yang panjang. Berdasarkan kacamata tata kelola pemerintahan, beban ini tidak boleh ditanggung oleh APBD Lamongan sendirian. Solusinya adalah skema pendanaan tahun jamak (multi-years) selama 5 tahun.
Anggaran harus dibagi secara proporsional:
APBN (Pusat): Mengingat Bengawan Jero adalah bagian dari Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo yang merupakan wewenang pusat (BBWS).
APBD Provinsi: Sebagai jembatan koordinasi wilayah lintas kabupaten.
APBD Kabupaten: Sebagai penyedia lahan dan pelaksana teknis di tingkat akar rumput.
Dengan masa kontrak 5 tahun, pembangunan dapat dilakukan secara bertahap tanpa mengganggu stabilitas fiskal daerah setiap tahunnya.
Inspirasi dari Dokumen Belanda: “Puzzle” Teknik yang Terlupakan
Menariknya, gagasan ini bukan sekadar imajinasi teknis modern. Sang ahli mengungkapkan bahwa ide ini diperkuat setelah menelusuri dokumen-dokumen lama peninggalan Belanda mengenai tata air di Jawa Timur. Meski dokumen yang ditemukan hanya berupa potongan tulisan tidak lengkap, benang merahnya jelas: insinyur Belanda sejak dulu sudah menyadari bahwa wilayah Lamongan bawah memerlukan sistem kendali air yang dinamis, bukan statis.
Belanda dikenal sebagai pakar pengelola air dunia karena wilayah mereka yang berada di bawah permukaan laut. Mengadaptasi logika “manajemen elevasi” dari dokumen tersebut sangat relevan dengan kondisi geografis Bengawan Jero yang menyerupai mangkuk (cekungan).
Tantangan Transparansi dan “Tekanan” Tak Kasat Mata
Setiap solusi besar selalu membawa tantangan non-teknis. Kabarnya, gagasan komprehensif ini sempat disampaikan kepada salah satu kelompok aspirasi di Lamongan. Namun, hingga kini, ide tersebut seolah “jalan di tempat” dan tidak berani dipublikasikan secara luas ke ranah kebijakan publik.
Muncul dugaan adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu yang mungkin merasa kepentingannya terganggu jika masalah banjir benar-benar tuntas. Apakah ini terkait dengan proyek normalisasi tahunan yang bernilai miliaran, atau kepentingan pembebasan lahan? Hal ini menjadi catatan kritis bagi masyarakat Lamongan: bahwa solusi teknis sudah ada, namun kemauan politik (political will) masih menjadi tembok besar yang harus ditembus.
Kesimpulan
Solusi bendungan karet di Karanggeneng dan Karangbinangun adalah jawaban saintifik yang berakar pada data sejarah. Jika pemerintah pusat, provinsi, dan daerah mampu berkolaborasi dalam anggaran 5 tahun ke depan, maka penderitaan warga Bengawan Jero bisa segera berakhir. Kini pertanyaannya: beranikah para pemangku kebijakan mengambil langkah ini, atau tetap membiarkan warga tenggelam dalam siklus banjir demi menjaga status quo. (Writer : Ade R.)









