Hari Kedua: Nostalgia Proses Merajut Baju Besi Husen Wakil Ketua DPRD Lamongan di LP Ma’arif NU

Informasiindo.com//Lamongan, 23 Februari 2026 – Di bawah naungan atap teras kantor PCNU Lamongan, Senin (23/2/2026), keluarga besar Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Lamongan berkumpul. Bukan sekadar membatalkan puasa, namun sebuah upaya merajut kembali memori kolektif sembari membedah arah kompas organisasi ke depan.

 

Ketua LP Ma’arif NU Lamongan, Dr. Ali Nurdin, membuka suasana dengan nada syukur yang mendalam. Baginya, pertemuan ini adalah oase di tengah padatnya agenda pendidikan. Sebuah momentum untuk berhenti sejenak guna melihat sejauh mana derap langkah yang telah diambil.

 

Refleksi Rekor dan Tanggung Jawab

 

Hadir sebagai narasumber tunggal, Husen sosok yang tidak asing bagi nahdliyin Lamongan. Mantan Ketua IPNU era 2000-2002 yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Lamongan sekaligus pernah menakhodai Ma’arif pada 2014-2018 membawa aroma nostalgia yang kental.

 

Husen melempar ingatan audiens pada masa keemasan, saat LP Ma’arif Lamongan berhasil menorehkan tinta emas di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui penciptaan 11.000 puisi. Sebuah pencapaian yang menurutnya bukan sekadar angka, melainkan simbol kreativitas tanpa batas.

 

Jangan sampai kita kehilangan gairah itu, pesannya tegas. Ia mengingatkan pengurus saat ini agar tidak setengah hati.

“Amanah ini sudah terlanjur diberikan di pundak kalian. Pilihannya hanya satu: jalankan dengan sebaik-baiknya atau sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang abai.”

 

Sentilan Kritis: Antara Kebijakan dan Tikus Organisasi

 

Diskusi semakin menghangat ketika salah satu peserta melontarkan gagasan progresif. Ia berharap LP Ma’arif tidak hanya menjadi administrator sekolah, tetapi mampu bertransformasi layaknya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang kritis dan visioner. Ma’arif dituntut selangkah lebih maju dalam memetakan kebijakan pendidikan, sehingga lembaga pendidikan di bawah naungannya memiliki peta jalan yang presisi.

 

Namun, suasana sempat sedikit menegang atau mungkin lebih tepatnya berteka-teki saat peserta kedua melontarkan satire tajam dengan bahasa kiasan.

“Bagaimana jika di dalam rumah besar kita ini, bahkan di dalam organisasi ini, ternyata ada tikusnya?” tanyanya ambigu. Sebuah sindiran yang entah ditujukan ke mana, namun cukup membuat dahi sebagian peserta berkerut.

 

Insting, Intuisi, dan Budaya Positif

 

Menanggapi tuntutan visioner peserta pertama, Husen menjawab dengan perspektif yang melampaui logika formal.

“Di atas akal dan prediksi, ada insting dan intuisi. Gunakan itu sebagai senjata utama. Pemetaan kebijakan bukan hanya soal data di atas kertas, tapi soal kepekaan membaca zaman,” terangnya.

 

Sementara untuk analogi tikus yang satir tersebut, Husen memilih menjawab dengan gaya diplomatis namun sarat makna. Ia tidak memburu siapa yang dimaksud, melainkan menawarkan solusi sistemik.

“Cara terbaik menghadapi gangguan di dalam adalah dengan memperkuat budaya-budaya positif. Jika ekosistem kita sehat dan fokus pada tujuan yang jelas, maka hal-hal yang merusak akan tereliminasi dengan sendirinya oleh sistem,” tandasnya.

 

Acara ditutup dengan doa dan buka puasa bersama. Di teras itu, Ma’arif Lamongan hari ini tidak hanya sekadar kenyang secara fisik, tapi juga pulang dengan bekal refleksi yang cukup mengenyangkan batin. (R. Ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *