Informasiindo.com//Lamongan, 22 Februari 2026 – Teras Kantor PCNU Lamongan mendadak memanas di tengah sejuknya angin sore pada 22 Februari 2026. Agenda pembukaan marathon buka bersama dan diskusi yang digagas oleh PCNU Lamongan bukan sekadar ajang kumpul makan gratis atau temu kangen biasa. Di balik deretan takjil yang tersaji, tersimpan kegelisahan mendalam terhadap kualitas intelektual para kader hijau saat ini.
Gus Syahrul Munir, yang didapuk membuka rangkaian panjang agenda selama bulan Ramadhan ini, tidak memberikan sambutan normatif yang penuh basa-basi. Sebaliknya, ia melontarkan kritik tajam yang menusuk langsung ke jantung pergerakan. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa ada gejala mengkhawatirkan yang sedang menjangkiti internal organisasi: penurunan daya kritis. Menurutnya, sifat kritis kader NU akhir-akhir ini mulai menurun drastis, seolah-olah gairah untuk berdebat dan membedah persoalan sosial telah luntur berganti dengan sikap pragmatis yang membosankan.
Pernyataan ini menjadi pemantik utama mengapa Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) dan 17 lembaga lainnya di bawah naungan PCNU Lamongan dipaksa untuk “bekerja keras” selama bulan suci. Bukan hanya soal mengisi perut saat maghrib tiba, namun ada misi besar untuk merebut kembali marwah intelektual melalui marathon diskusi selama 18 hari berturut-turut. Setiap hari, lembaga yang berbeda akan memegang kendali forum, memaksa para kader untuk keluar dari zona nyaman dan kembali beradu gagasan di atas teras kantor yang bersejarah tersebut.
Langkah PCNU Lamongan yang mengonsolidasikan 18 lembaga dalam satu rangkaian panjang ini menunjukkan adanya upaya darurat untuk melakukan reboisasi pemikiran. Diskusi ini diniatkan sebagai ruang tampar bagi para kader yang mungkin selama ini hanya sibuk dengan urusan administratif atau sekadar bangga dengan seragam tanpa isi kepala yang mumpuni. Silaturahmi memang menjadi tujuan formal, namun target utamanya adalah memulihkan kembali insting kritis yang sempat tumpul.
Jika dalam 18 hari ke depan forum ini hanya menjadi tempat curhat colongan tanpa ada dialektika yang tajam, maka kekhawatiran Gus Syahrul akan menjadi kenyataan pahit bagi masa depan NU di Lamongan. Teras kantor PCNU kini bukan lagi sekadar tempat berbuka, melainkan sebuah kawah candradimuka yang akan menguji apakah kader NU masih memiliki nyali untuk berpikir kritis atau hanya sekadar menjadi penonton di tengah perubahan zaman yang kian cepat. Ramadhan kali ini adalah pertaruhan ideologi, bukan sekadar perayaan lapar dan dahaga. (R. Ade)









