Informasiindo.com - Informasiindo.com//Lamongan 24 Januari 2026 – Pagi yang seharusnya tenang di Dusun Talun, Desa Sidogembul, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, mendadak berubah menjadi mencekam pada Jumat, 23 Januari 2026. Sebuah peristiwa berdarah mengguncang masyarakat setempat ketika salah satu warga mereka, seorang seniman bernama Sumarto, ditemukan tidak bernyawa di dalam rumahnya sendiri. Kematian pria berusia 56 tahun tersebut menjadi sangat tragis dan menyayat hati bukan hanya karena cara hilangnya nyawa korban, namun karena dugaan kuat bahwa pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri. Seniman yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan ini harus mengakhiri perjalanan hidupnya dengan cara yang sangat memilukan di tangan orang yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Kronologi penemuan jasad korban bermula ketika istri Sumarto baru saja kembali ke rumah setelah menyelesaikan aktivitas rutinnya berbelanja di pasar. Setibanya di rumah, kondisi hunian tampak sunyi seperti biasanya. Sang istri kemudian masuk ke ruang tengah dan melihat suaminya sedang dalam posisi berbaring di atas kursi panjang. Awalnya, tidak ada kecurigaan yang berarti karena korban terlihat seperti sedang tertidur lelap dengan kepala yang tertutup bantal. Namun, perasaan tidak enak mulai muncul saat sang istri mencoba mendekat untuk membangunkan suaminya. Ketika bantal yang menutupi bagian wajah dan kepala tersebut dibuka, pemandangan mengerikan langsung tersaji di depan matanya.
Kepala Sumarto ditemukan dalam kondisi hancur dan berlumuran darah segar yang menggenang di area kursi hingga lantai. Teriakan histeris sang istri seketika memecah kesunyian Dusun Talun. Ia berlari keluar rumah dengan sisa-sisa tenaga untuk meminta pertolongan kepada tetangga sekitar. Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan dan mendapati korban sudah tidak bernyawa. Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara awal, diduga kuat korban dihantam menggunakan tabung gas LPG berukuran 3 kilogram tepat di bagian kepala saat ia sedang tertidur. Benturan benda tumpul yang sangat berat dan keras tersebut membuat nyawa korban tidak tertolong lagi.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami motif pasti di balik tindakan keji tersebut. Namun, berdasarkan keterangan dari sejumlah rekan sesama seniman dan tetangga terdekat, tersiar kabar bahwa terdapat masalah internal keluarga yang sudah berlangsung cukup lama antara korban dan ayahnya. Konflik yang terpendam di dalam rumah tersebut diduga memuncak hingga memicu sang ayah gelap mata dan melakukan tindakan nekat. Pihak keluarga dan kerabat masih tampak sangat terpukul dan seolah tidak percaya bahwa perselisihan rumah tangga bisa berakhir dengan hilangnya nyawa di tangan anggota keluarga sendiri.
Kepergian Sumarto meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni di Lamongan. Ironisnya, saat peristiwa berdarah itu terjadi, Sumarto sedang menjadi salah satu peserta penting dalam pameran karya seni bertajuk Ekologis yang diselenggarakan oleh Komunitas Seniman Peduli Lamongan (KOSPELA) di Gedung Korpri Lamongan. Dalam pameran tersebut, Sumarto menampilkan sebuah karya monumental berjudul Mengi. Karya ini menarik perhatian besar dari para kurator dan pengunjung karena kedalaman pesan yang diusungnya. Mengi dideskripsikan sebagai representasi dari perkembangan industri yang bergerak masif namun mengabaikan aspek kesehatan serta dampak buruk terhadap lingkungan sekitarnya.
Karya “Mengi” mempresentasikan kondisi lingkungan sekitar yang mulai terpolusi berat, yang pada akhirnya berdampak sistemik pada semua jenjang kesehatan masyarakat. Secara visual, karya tersebut dianggap sangat berani dan jujur dalam memotret realitas sosial di Lamongan dan sekitarnya. Pasca kabar kematian sang seniman tersebar luas, karya Mengi di Gedung Korpri seolah menjadi magnet bagi pengunjung pameran. Banyak asumsi dan spekulasi yang berkembang di kalangan publik mengenai karya tersebut. Ada yang melihatnya dari sudut pandang keunikan teknik seni, namun tidak sedikit pula yang mulai mengaitkannya dengan unsur mistik atau firasat tertentu, mengingat judul dan tema yang diangkat seolah menggambarkan sesak nafas atau penderitaan fisik sebelum ajal menjemputnya.

Tragedi ini menjadi semakin emosional ketika publik menyadari bahwa anak dari korban juga merupakan seorang seniman yang ikut serta dalam pameran yang sama. Sang anak menampilkan sebuah karya berjudul “Gema Terbelenggu”. Karya yang sangat unik dan ikonik ini sebelumnya memang sudah menjadi pembicaraan di kalangan penikmat seni, namun setelah berita tragis mengenai ayahnya diunggah di berbagai platform media sosial dan portal berita nasional, atensi pengunjung terhadap karya Gema Terbelenggu meningkat secara drastis. Judul karya sang anak kini dirasakan memiliki keterkaitan emosional yang mendalam dengan situasi keluarga mereka yang kini terbelenggu oleh duka dan persoalan hukum yang membelit kakeknya sendiri.


Suasana di Gedung Korpri yang semula penuh dengan semangat apresiasi seni kini berubah menjadi penuh haru dan doa. Para rekan sejawat di KOSPELA merasa kehilangan sosok Sumarto yang dikenal sebagai pribadi yang tekun dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu-isu lingkungan. Kehadiran karya Mengi dan Gema Terbelenggu dalam satu ruang pameran kini dipandang sebagai warisan terakhir dan bentuk dialog antara ayah dan anak yang terputus oleh sebuah tragedi yang tak terbayangkan. Masyarakat Lamongan berharap agar proses hukum dapat berjalan dengan adil dan latar belakang di balik peristiwa ini dapat terungkap secara terang benderang.
Pihak kepolisian telah mengamankan barang bukti berupa tabung gas LPG 3 kilogram yang diduga kuat digunakan sebagai alat untuk menghabisi nyawa korban. Sementara itu, jenazah Sumarto telah dievakuasi untuk menjalani proses autopsi guna memperkuat bukti-bukti kekerasan yang dialami. Kasus pembunuhan anak oleh ayah kandung ini menjadi pengingat pahit bagi masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental dan penyelesaian konflik dalam lingkup keluarga. Di balik kanvas dan karya seni yang indah, tersimpan sebuah duka yang kini menggoreskan luka permanen di sejarah kesenian Kabupaten Lamongan. (Ade R)









