Informasiindo.com – Dalam sebuah video yang menggelitik nalar publik di kanal YouTube Malaka, Cania Citta menyodorkan sebuah persoalan mendasar yang selama ini menjadi “penyakit kronis” dalam sistem pendidikan kita: ujian yang salah arah dan salah kaprah. Kritiknya bukan sekadar gugatan administratif, melainkan sebuah pisau bedah yang menelusuri sumber kerusakan utama dari seluruh output pendidikan yang kerap kita keluhkan. Ia menunjukkan, dengan contoh yang teramat nyata, bagaimana sebuah kesalahan dalam merancang alat ukur dapat merusak seluruh ekosistem pembelajaran, merugikan guru dan murid, dan pada akhirnya, mempertaruhkan masa depan anak-anak Indonesia.
Kisah Kasus: Tes Literasi yang Dikangkangi oleh Rumus Kimia
Cania membuka analisisnya dengan sebuah ironi yang pahit. Ia menggambarkan sebuah skenario dalam seleksi masuk universitas, di mana sebuah tes yang seharusnya mengukur kemampuan literasi—kemampuan memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi informasi tertulis—justru berisi soal-soal kimia yang kompleks.
Bayangkan seorang calon mahasiswa dari jurusan IPS atau Bahasa, yang berminat mendalami Sosiologi atau Sastra. Untuk membuktikan kemampuannya dalam membaca dan menganalisis teks, ia justru dihadapkan pada soal yang meminta menghitung molaritas larutan atau menyeimbangkan persamaan reaksi redoks. Di mana letak pengukuran literasinya? Apa hubungannya memahami puisi dengan menghafalkan rumus struktur senyawa karbon?
Ini bukan lagi sekadar soal sulit. Ini adalah salah ukur (misguided measurement) yang fatal. Tes tersebut tidak lagi mengukur apa yang seharusnya diukur. Yang terukur bukanlah kemampuan literasi, melainkan memori jangka pendek terhadap mata pelajaran spesifik yang mungkin tidak relevan dengan minat dan bakat sang anak.
Efek Domino Kerusakan: Rantai yang Menjerat Seluruh Ekosistem Pendidikan
Kesalahan mendasar dalam merancang ujian ini tidak berhenti di soal itu sendiri. Ia memicu efek domino yang merusak dan berjangka panjang, menciptakan sebuah siklus yang destruktif.
1. Kerugian bagi Siswa: Pemerkosaan Minat dan Bakat
Siswa yang memiliki bakat luar biasa di bidang humaniora, seni, atau sosial tiba-tiba dianggap “bodoh” atau “tidak kompeten” karena sistem menuntutnya untuk mahir dalam bidang yang bukan minatnya. Ini adalah bentuk pemerkosaan intelektual. Rasa percaya diri mereka hancur, motivasi belajar anjlok, dan yang paling berbahaya, mereka mulai percaya bahwa mereka memang tidak mampu. Bakat-bakat terpendik yang seharusnya disirami justru dibiarkan layu karena disiangi oleh standar yang keliru.
2. Kerugian bagi Guru: Pengkhianatan terhadap Tugas Suci
Guru, yang seharusnya menjadi pendidik dan penjaga api kecintaan belajar, dipaksa berubah menjadi “pelatih soal”. Mereka terjebak dalam “teaching to the test”. Kurikulum tidak lagi dijalankan untuk membangun pemahaman yang mendalam dan holistik, melainkan untuk membekali siswa menjawab jenis soal ujian yang salah kaprah tersebut. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, mungkin merasa gagal karena nilai literasi siswanya jatuh, padahal yang diujikan adalah kimia. Ini adalah pengkhianatan terhadap tugas suci seorang pendidik.
3. Kerugian bagi Sekolah: Kompetisi Semu dan Gengsi Palsu
Sekolah-sekolah kemudian dinilai berdasarkan hasil ujian seperti ini. Ranking dan akreditasi ditentukan oleh kemampuan siswa menjawab soal yang keliru. Sekolah yang “baik” adalah sekolah yang lihai melatih siswanya menghadapi soal-soal semacam ini, bukan sekolah yang berhasil menumbuhkan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswanya. Terciptalah kompetisi semu untuk meraih gengsi palsu.
4. Kerugian bagi Sistem yang Lebih Luas: Masa Depan Indonesia yang Rapuh
Pada tingkat makro, kesalahan ini menghasilkan output pendidikan yang cacat. Kita mencetak generasi yang terampil menghafal dan mengerjakan soal, tetapi lemah dalam bernalar, memecahkan masalah kompleks, dan berinovasi. Ketika lulusan-lulusan ini memasuki dunia kerja dan masyarakat, mereka membawa serta cara berpikir yang sempit dan tidak adaptif. Mereka adalah produk dari sistem yang mengajarkan untuk “menjawab dengan benar” alih-alih “bertanya dengan kritis”. Inilah yang kemudian menjelaskan mengapa bangsa yang kaya sumber daya manusia ini kerap kewalahan menghadapi tantangan zaman.
Menelusuri Akar Masalah: Filsafat Pendidikan yang Tersesat
Apa akar dari semua ini? Cania Citta, melalui analisisnya, mengajak kita melihat lebih dalam daripada sekadar kesalahan teknis penyusunan soal.
Pertama, Penyamarataan yang Membunuh Kreativitas. Sistem kita masih terjebak pada paradigma one-size-fits-all. Setiap siswa dianggap sama dan harus diuji dengan alat ukur yang seragam. Padahal, kecerdasan manusia itu majemuk (multiple intelligences). Memaksa seorang calon sastrawan untuk pintar kimia sama absurdnya dengan memaksa seorang calon ahli kimia untuk menulis novel yang memenangkan penghargaan.
Kedua, Obesesi pada Metrik dan Angka. Pendidikan telah direduksi menjadi sekumpulan angka: nilai ujian, peringkat sekolah, persentase kelulusan. Filsafat pendidikan yang menekankan pada proses, pembentukan karakter, dan kebahagiaan belajar telah tergantikan oleh obsesi pada produk yang terukur secara kuantitatif, meskipun pengukurannya sendiri keliru.
Ketiga, Jurang yang Menganga antara Pembuat Kebijakan dan Realitas Kelas. Para perancang kurikulum dan soal ujian seringkali sangat terpisah dari realitas sehari-hari di dalam kelas. Mereka hidup dalam dunia teori dan data, tetapi kehilangan sentuhan dengan denyut nadi pembelajaran yang sesungguhnya. Akibatnya, kebijakan yang lahir terasa janggal, tidak kontekstual, dan justru kontra-produktif.
Jalan Keluar: Merevolusi Cara Kita Mengukur
Lalu, apa solusinya? Kritik Cania bukan tanpa jalan keluar. Perubahan fundamental harus dimulai dari filosofi pengukuran itu sendiri.
-
Ujian Harus Menguji Kompetensi, Bukan Ingatan. Soal literasi harus benar-benar menguji literasi: melalui teks-teks otentik, analisis argumen, interpretasi data dalam grafik, atau esai yang menuntut penalaran. Bukan dengan menyelipkan rumus-rumus sains.
-
Penilaian yang Autentik dan Beragam. Penilaian tidak boleh bergantung pada ujian pilihan ganda semata. Portofolio, proyek, presentasi, dan observasi harus menjadi bagian integral dari penilaian. Ini akan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kemampuan seorang siswa.
-
Pemetaan Minat dan Bakat Sejak Dini. Sistem pendidikan harus memiliki mekanisme untuk memetakan minat dan bakat siswa, lalu memberikan jalur assessment yang berbeda sesuai dengan peta tersebut. Tes untuk calon ilmuwan dan calon seniman harus berbeda, karena kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda.
-
Melibatkan Praktisi di Kelas dalam Perancangan Assessment. Guru-guru yang setiap hari berinteraksi dengan siswa harus memiliki suara yang signifikan dalam merancang standar dan alat ukur. Mereka adalah ahli yang paling memahami apa yang perlu diukur dan bagaimana mengukurnya dengan benar.
Kesimpulan: Saatnya Menghentikan Pengkhianatan Terstruktur
Kesalahan dalam ujian, seperti yang diungkapkan Cania Citta, bukanlah kesalahan teknis yang remeh. Ia adalah sebuah pengkhianatan terstruktur terhadap tujuan pendidikan itu sendiri. Setiap kali kita membiarkan tes yang salah arah ini berlangsung, kita sedang mengikis masa depan satu per satu anak Indonesia. Kita merampas kepercayaan diri mereka, memenjarakan potensi mereka, dan pada akhirnya, meruntuhkan daya saing bangsa.
Masa depan Indonesia tidak boleh lagi dipertaruhkan pada soal ujian yang berisi kimia untuk mengukur literasi. Sudah waktunya untuk berani melakukan koreksi total, mengembalikan ujian pada fungsinya yang sejati: sebagai cermin untuk refleksi dan peta untuk melangkah ke depan, bukan sebagai penghakiman massal yang menghabisi mimpi dan kreativitas. Saatnya kita mendengarkan suara-suara kritis seperti Cania, dan bersama-sama membongkar sumber kerusakan pendidikan dari akarnya.









