Informasiindo.com - Sumenep,Informasiindo.com – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menerapkan inovasi tungku pembakaran sampah minim asap (incinerator) di Desa Moncek Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Program ini bertujuan untuk mengatasi persoalan sampah rumah tangga sekaligus menekan pencemaran udara akibat praktik pembakaran terbuka yang selama ini masih dilakukan warga.
Permasalahan sampah di Desa Moncek Timur muncul akibat keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah terpadu. Kondisi tersebut mendorong masyarakat membakar sampah secara langsung di lingkungan permukiman, yang berpotensi menimbulkan asap pekat, bau menyengat, serta gangguan kesehatan.
Melalui program kerja lingkungan, mahasiswa KKN UTM merancang dan membangun tungku pembakaran sederhana berbahan bata ringan yang dilengkapi sistem ventilasi ganda. Desain ini memungkinkan proses pembakaran berlangsung lebih sempurna sehingga mampu mengurangi asap yang dihasilkan.
Koordinator tim KKN Desa Moncek Timur, Aji, mengatakan bahwa program ini dirancang berdasarkan hasil observasi lapangan dan kebutuhan masyarakat.
“Kami melihat pembakaran sampah masih dilakukan secara terbuka dan cukup mengganggu. Tungku ini kami rancang agar mudah digunakan, murah, dan bisa langsung dimanfaatkan warga,” katanya.
Sebelum pembangunan tungku, mahasiswa melakukan studi awal mengenai karakteristik sampah rumah tangga. Hasilnya menunjukkan bahwa sampah didominasi oleh sampah organik, serta plastik dan kertas. Berdasarkan temuan tersebut, tungku dirancang dengan kapasitas pembakaran sekitar lima kilogram sampah per siklus.
Asap Berkurang hingga 70 Persen
Hasil uji coba menunjukkan bahwa tungku pembakaran minim asap mampu membakar sampah dalam waktu rata-rata 1,5 jam per siklus, tergantung pada jenis sampah. Dibandingkan pembakaran konvensional, asap yang dihasilkan berkurang secara signifikan.
“Dari hasil pengujian, asap yang keluar jauh lebih sedikit, sekitar 70 persen lebih rendah dibanding pembakaran terbuka,” ujar Aji selaku kordinator kkn kelompok 37
Penurunan emisi asap tersebut berdampak langsung pada kenyamanan lingkungan sekitar. Selama proses pembakaran, asap tidak menyebar luas ke permukiman, dan bau yang ditimbulkan relatif minim.
Warga Rasakan Manfaat Langsung
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Shollah, salah satu warga Desa Moncek Timur, mengaku merasakan perbedaan setelah menggunakan tungku pembakaran minim asap.
“Kalau dulu asapnya masuk ke rumah, sekarang hampir tidak terasa. Lingkungan jadi lebih nyaman,” ujarnya.
Selain mudah digunakan, tungku ini juga dinilai tidak memerlukan biaya operasional tambahan sehingga dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.
Edukasi Pemilahan Sampah
Meski dinilai efektif, mahasiswa KKN mencatat bahwa tungku pembakaran masih memiliki keterbatasan, terutama dalam menangani sampah plastik. Pembakaran plastik yang tidak terkontrol berpotensi menghasilkan emisi berbahaya.
Untuk itu, mahasiswa juga melakukan sosialisasi kepada warga mengenai pemilahan sampah dan pentingnya pengelolaan sampah plastik secara terpisah melalui daur ulang atau metode lain yang lebih aman.
Melalui penerapan tungku pembakaran sampah minim asap ini, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura berharap masyarakat dapat mulai beralih ke metode pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Program ini diharapkan dapat menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna di wilayah pedesaan yang menghadapi permasalahan serupa.









