Rutinitas Yayasan Assyuro Lamongan Rayakan Malam 1 Syuro

Budaya19 Views

Informasiindo.com - Lamongan, 15 Juni 2026
Malam satu Suro adalah pergantian Tahun Baru Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Momen ini oleh jamaah Yayasan Assyuro yang berada di Desa Bulutengger Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan dianggap sakral dan memiliki keutamaan sebagai waktu refleksi bermunajat memohon keselamatan, membersihkan diri dari nafsu duniawi, serta amalan ibadah bagi umat Islam.

Merajut Refleksi Spiritual di Malam Pergantian Tahun Baru Jawa dan Islam
Malam satu Suro merupakan salah satu momen paling penting dan sakral dalam kalender Jawa yang senantiasa diperingati oleh masyarakat dan hal itu menjadi agenda tahunan oleh Yayasan Assyuro untuk memperingati dengan segala kegiatannya.

Yuli Eko Hadi Saputro selaku.pimpinan Yayasan mengatakan bahwa waktu yang bertepatan dengan awal Tahun Baru Islam, 1 Muharram ini bagi Yayasan Assyuro sejak puluhan tahun yang lalu, tidak hanya sekadar pergantian kalender, tetapi juga menjadi simbol penyatuan budaya yang kaya akan makna spiritual.

Yuli sapaan akrab pemilik yayasan juga menyampaikan pada informasiindo.com terkait Sejarah dan Akulturasi Budaya malam 1 Syuro.
Tradisi malam satu Suro bermula dari inisiatif Raja Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Beliau menggabungkan penanggalan Hindu (Saka) yang berbasis matahari dengan penanggalan Islam (Hijriah) yang berbasis bulan. Langkah ini diambil untuk menyatukan masyarakat Jawa, yang saat itu terbelah antara kelompok santri dan abangan, agar bersama-sama memperkuat spiritualitas tanpa perpecahan.

“Dalam pandangan masyarakat Jawa dan Islam, malam satu Suro adalah waktu yang sangat istimewa untuk melakukan pendekatan diri kepada Tuhan. Berbagai keutamaan dan praktik ibadah yang dianjurkan meliputi:
• Tirakat dan Refleksi Diri: Masyarakat biasanya melakukan laku prihatin, mengurangi tidur, dan bermeditasi untuk membersihkan hati serta melawan nafsu duniawi.
• Meningkatkan Amalan Ibadah: Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan seperti sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, membaca doa akhir dan awal tahun, serta bersedekah.
• Tradisi Bersejarah: Di berbagai keraton seperti Yogyakarta dan Surakarta, malam ini diisi dengan kirab pusaka dan mengelilingi benteng sebagai bentuk permohonan perlindungan dan keselamatan.” paparnya.

Secara tradisi bulan Syuro khususnya malam 1 Syuro selain diisi dengan ibadah, malam satu Suro juga lekat dengan berbagai pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Dipercaya sebagai malam di mana tabir antara alam gaib dan dunia manusia menipis, masyarakat umumnya menghindari bepergian jauh, menggelar pesta pernikahan, atau pindah rumah. Pantangan ini dimaknai sebagai anjuran untuk berdiam diri di rumah, berdoa, dan menjaga lisan dari perkataan buruk.

Pada hakikatnya, seluruh rangkaian tradisi dan keutamaan malam satu Suro menjadi media bagi masyarakat untuk senantiasa mawas diri. Momen ini menjadi titik tolak untuk memulai tahun yang baru dengan pribadi yang lebih baik, lebih bersih, serta penuh dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk mendalami persiapan Anda menyambut malam satu Suro.

M. Sunan salah satu pengurus menjelaskan bahwa di yayasan Assyuro pada malam satu Syuro diisi dengan pembacaan tahlil dan istighosah juga sebagai media silaturahmi anggota.
“Pada tengah malam akan diadakan doa bersama untuk mendekatkan diri untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan pada sang pencipta serta memohon. Juga memohon keselamatan baik diri pribadi maupun alam semesta serta berkah rejeki yang diridloi Allah SWT” pungkasnya. D one

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *