Informasiindo.com - Minggu pagi yang biasanya tenang di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, berubah menjadi ruang kreatif yang penuh warna. Di dalam keheningan musholla pondok, puluhan pelajar berkumpul bukan untuk pengajian rutin, melainkan untuk menyelami dunia seni rupa. Acara yang tergolong dadakan ini digagas langsung oleh Ketua PCNU Lamongan, Gus Syahrul Munir, sebagai bentuk perhatian terhadap pengembangan bakat estetika para generasi muda Nahdliyin.

Kegiatan bertajuk pengenalan melukis ini menyasar siswa-siswi Madrasah Aliyah Ma’arif 7 dan SMK Sunan Drajat Paciran. Sebanyak 80 pelajar hadir memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi pada hari Minggu, 25 Januari 2026. Meski dipersiapkan dalam waktu singkat, kualitas materi yang dihadirkan tidak main-main. Dua narasumber utama didatangkan khusus untuk memantik semangat para siswa, yakni Mas Sumantri, seorang pelukis berbakat dari Sumenep, serta Mas Hartono, seniman yang membawa perspektif seni dari Semarang.
Interaksi yang terjadi selama sesi diskusi berlangsung sangat cair dan dinamis. Para pelajar tidak ragu melontarkan berbagai kegelisahan yang selama ini memendam hasrat seni mereka. Pertanyaan yang muncul sangat beragam, mulai dari aspek filosofis hingga praktis. Beberapa siswa menanyakan bagaimana cara menemukan jiwa seni di tengah kesibukan sekolah, sementara yang lain merasa cemas memikirkan tanggapan negatif jika hasil karya mereka dikritik oleh orang lain. Masalah ekonomi pun tak luput dari bahasan, di mana para peserta ingin tahu bagaimana cara menjual hasil karya agar hobi tersebut bisa menjadi sesuatu yang produktif secara finansial.

Mas Sumantri dan Mas Hartono menjawab setiap pertanyaan dengan lugas dan penuh motivasi. Mereka menekankan bahwa seni adalah tentang kejujuran berekspresi, di mana kritik seharusnya dianggap sebagai cermin untuk bertumbuh, bukan penghambat langkah. Menariknya, suasana diskusi semakin kaya dengan tambahan masukan dari para pelukis lain yang turut hadir memberikan dukungan. Abu Sufyan, pelukis asal Deket, memberikan pandangan mengenai ketekunan, sementara Sugeng Lanang, seorang pelukis mural lokal dari Paciran, berbagi tips mengenai keberanian berekspresi di ruang publik. Tak ketinggalan, Husni, seniman dari Surabaya, ikut memperkuat argumen mengenai pentingnya jejaring bagi seorang pelukis pemula.
Setelah sesi materi dan tanya jawab yang hangat berakhir, acara dilanjutkan dengan praktik langsung. Tidak ada batasan tema maupun teknik; setiap peserta diberikan kebebasan untuk menggoreskan kuas di atas media sesuai dengan kemampuan dan imajinasi masing-masing. Suasana musholla seketika berubah menjadi studio seni raksasa. Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat para siswa, Ochez Sumantri menyerahkan hadiah berupa karya lukisan kepada peserta yang menunjukkan kesungguhan luar biasa dalam praktik tersebut.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi positif dari pihak institusi pendidikan. Pak Zubaidi, selaku kepala sekolah, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas inisiatif Gus Syahrul Munir. Menurutnya, acara seperti ini sangat penting untuk menyeimbangkan kecerdasan akademik dengan kecerdasan emosional dan artistik. Beliau berharap agar kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni sehari saja, melainkan ada tindak lanjut berupa pembinaan secara intensif dari berbagai pihak terkait. Tujuannya jelas, agar potensi dan ekspresi seni para pelajar di lingkungan Ma’arif dan SMK Sunan Drajat dapat tersalurkan dengan benar dan memiliki wadah yang berkelanjutan di masa depan.

Melalui goresan-goresan sederhana di hari Minggu tersebut, terpancar harapan bahwa santri tidak hanya pandai mengaji dan mengkaji kitab, tetapi juga mampu mewarnai dunia melalui keindahan seni rupa. (Ade)









