Paguyuban Kereta Kelinci Alun-Alun Lamongan (KEKAL) baru-baru ini menggelar tasyakuran akhir tahun, sebuah momen refleksi di tengah desakan tantangan yang mengancam eksistensi usaha mereka. Acara yang dihadiri oleh seluruh anggota paguyuban ini tidak hanya menjadi ajang syukur, tetapi juga wadah untuk menyuarakan keresahan mendalam yang selama ini terpendam. M. Nursalim turut hadir, memimpin doa, memohon keberkahan dan jalan keluar bagi nasib usaha yang kini berada di ujung tanduk.
Ketua paguyuban, Aripul, yang akrab disapa Mas Ipul, menyampaikan pandangan yang tajam mengenai dilema yang mereka hadapi.

Di internal paguyuban, semangat inovasi dan perawatan kereta kelinci semakin merosot. Para anggota mengeluhkan berkurangnya peminat secara drastis dalam beberapa waktu terakhir, sebuah kondisi yang memaksa mereka menghentikan segala bentuk perawatan dan pengembangan unit. Siklus ini menciptakan lingkaran setan: kurangnya peminat menyebabkan minimnya pendapatan, yang berujung pada menurunnya kualitas dan tampilan kereta, sehingga semakin dijauhi oleh pengunjung.
Oleh karena itu, harapan besar kini diarahkan pada pihak eksternal. Paguyuban KEKAL berharap ada instansi atau perusahaan yang bersedia mengulurkan tangan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau bentuk bantuan lainnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi modal vital untuk revitalisasi unit-unit kereta kelinci, menjadikannya lebih aman, menarik, dan relevan dengan tren masa kini. Inovasi ini diyakini sebagai kunci untuk menarik kembali minat masyarakat dan wisatawan, sekaligus memastikan bahwa ikon hiburan lokal ini tidak punah dimakan waktu dan regulasi. Nasib Kereta Kelinci Alun-Alun Lamongan kini menanti kepedulian bersama antara penegak aturan, dunia usaha, dan masyarakat.









