Informasiindo.com - JAKARTA,Deteksimedi.com 06 Maret 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena La Nina lemah yang melanda Indonesia sejak Oktober 2025 telah resmi berakhir. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih awal dan durasinya lebih panjang dari normal pada tahun 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal ini dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal YouTube BMKG, menjelaskan bahwa musim kemarau yang lebih panjang akan terjadi di 400 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 57,2% dari total ZOM di Indonesia.
“Jadi ini perlu dicatat, bahwa musim kemarau yang akan kita hadapi di tahun 2026 itu akan lebih panjang dari normalnya,” ujar Faisal. Ia menambahkan, informasi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi berbagai sektor dalam perencanaan mitigasi, antisipasi, serta sebagai dasar perencanaan jangka panjang yang terkait dengan kondisi iklim.
Musim kemarau 2026 akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian secara bertahap bergerak ke Barat menuju wilayah Indonesia lainnya. Sebanyak 114 ZOM (16,3%) diprediksi memasuki musim kemarau pada April 2026, diikuti 184 ZOM (26,3%) pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni 2026.
Sebagian besar wilayah Indonesia atau sekitar 325 ZOM (46,5%) diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal dari jadwal normal, sedangkan 173 ZOM (23,7%) diprediksi masuk musim kemarau sesuai jadwal normal.
“Terkait sifat musim kemarau tahun 2026, akumulasi curah hujan pada periode tersebut di 451 ZOM atau 64,5% dari seluruh ZOM Indonesia diprediksi berada di kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya,” jelas Faisal.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi di bulan Agustus 2026 di sebagian besar wilayah, tepatnya di 429 ZOM (61,4%). Sebanyak 410 ZOM (58,7%) diprediksi mengalami puncak musim kemarau lebih awal, sedangkan 142 ZOM (20,3%) diprediksi sesuai jadwal normal.
(*)









