Menumbuhkan Kembali Ruh Organisasi: Evaluasi Kritis dan Langkah Kongkrit di LPBI NU Lamongan

Uncategorized214 Views

Hari yang sejatinya menjadi momentum introspeksi bagi Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Lamongan, yakni pada 9 Desember 2025, justru mengungkap sejumlah persoalan mendasar yang menghambat laju organisasi kemanusiaan ini. Pertemuan evaluasi kinerja pengurus dan anggota yang dibuka oleh Ketua LPBI, Mas Amalan, menjadi wadah diskusi terbuka yang membedah akar permasalahan yang selama ini menggerogoti efektivitas mereka.

Mas Amalan secara gamblang menyoroti tiga isu krusial: sulitnya mengumpulkan anggota, kurangnya pemahaman substantif tentang peran dan fungsi LPBI di kalangan internal, dan adanya tendensi intervensi yang dirasakan terlalu dominan dari Koordinator LPBI. Ironisnya, Mas Amalan juga menyampaikan bahwa minimnya semangat kehadiran dan kekompakan anggota justru mempermudah munculnya prasangka buruk, sebuah siklus negatif yang pada akhirnya menghambat realisasi program kerja yang telah disusun dengan baik.

Di sisi lain, Koordinator LPBI, M. Nursalim, memberikan perspektif yang berbeda. Beliau mengakui dan membenarkan perlunya intervensi, bahkan mendesak Ketua LPBI untuk tidak gentar dengan hal tersebut. Intervensi, menurut Nursalim, adalah bentuk keseriusan dan komitmen dalam memastikan program-program dapat berjalan. Ia menekankan bahwa kuantitas anggota bukanlah segalanya; yang terpenting adalah keseriusan dalam menjalankan setiap program. Secara filosofis, Nursalim mengingatkan bahwa sebuah organisasi tidak memerlukan individu yang terlalu berkuasa, asalkan ia secara konsisten mampu melahirkan ide-ide program baru. Sebab, “organisasi tanpa ide adalah organisasi mati.” Pernyataan ini sekaligus menepis keraguan terhadap manfaat audiensi, yang menurutnya justru melahirkan kerja sama konkret dan bermanfaat bagi kelanjutan program organisasi.

Kritik tajam lainnya datang dari Ketua Pengurus LPBI Sarirejo, yang menyatakan kekecewaannya bahwa LPBI Lamongan saat ini seolah kehilangan momentum emas untuk berkontribusi secara signifikan dalam isu-isu bencana nasional yang belakangan ini merebak. Pernyataan ini menjadi cambuk pengingat akan tugas dan fungsi utama lembaga tersebut yang sejatinya harus sigap dan berada di garis depan.

Merespons semua dinamika dan kritik yang muncul, forum diskusi akhirnya mencapai konsensus penting. Para peserta sepakat untuk segera mengkonkretkan program kerja dengan menetapkan target waktu yang ketat. Dalam kurun waktu tujuh hari ke depan, program tersebut harus sudah terealisasi. Fokus utama dari kesepakatan ini adalah pendirian Posko Bencana pada setiap titik di wilayah Lamongan. Keputusan ini menunjukkan adanya keinginan kolektif yang kuat untuk segera beralih dari fase evaluasi dan retorika menuju aksi nyata dan kontribusi yang terukur bagi masyarakat. LPBI NU Lamongan kini ditantang untuk membuktikan bahwa di balik segala hambatan internal, ruh pengabdian dan kemanusiaan mereka tetap menyala dan siap diwujudkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *